DIBALIK PACARAN ?

| 13/10/14


Suatu aktifitas yang lumrah di masyarakat, dijalankan dengan taat, padahal jelas-jelas maksiat, yaitulah pacaran. Masyarakat kini menganggap pacaran adalah hal yang wajar bagi seseorang, bahkan hukumnya fardu ‘ain bagi laki-laki dan perempuan dari remaja sampai dewasa. Padahal aktifitas ini justru akan mengakibatkan degradasi moral dalam masyarakat yang sebenarnya menginginkan ketenangan, keamanan, dan kenyamanan dalam lingkungannya. Namun karena aktifitas ini sudah membudaya, maka terlihatlah hasilnya sekarang. Banyak diantara para remaja ataupun dewasa yang sudah tidak ada lagi batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.
Pacaran adalah aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan bakso berdua, jalan berdua, dan lain macamnya. Alasan seseorang berpacaran pun beragam. Ada yang takut dibilang kuper, ada yang minder dengan temannya yang mempunyai pacar, ada yang takut dibilang nggak laku, supaya semangat belajar, dan berbagai macam alasan lainnya yang diajukan sebagai pembenaran.
Ironisnya, sebagian orang tua bahkan senang melihat anaknya pacaran daripada menyegerakan menikah tanpa hingar bingar kemewahan. Katanya, nikah muda takut kecolongan. Padahal niat anaknya untuk menjaga kehormatan. Katanya, pacaran bisa nambah semangat belajar. Katanya, bangga anaknya diperebutkan lelaki, merasa “laku”, emangnya barang dagangan ? Dan masih banyak katanya-katanya yang lain yang dianggap lumrah padahal justru menjatuhkan.
Pertanyaannya sekarang, apa manfaatnya pacaran ?
Kalau takut dibilang kuper, apa dengan pacaran bisa tambah gaul ? Tidak, justru makin tertinggal
Kalau takut dibilang gak laku, masa mau sih disamain dengan barang dagangan ?
Kalau hanya karena penasaran, ingin tau rasanya, apa berani nanggung resiko kedepannya ?
Sebenarnya, kalau hanya takut dibilang kuper karna gak mau pacaran, maka mereka para aktivis pacaran itulah yang kuper. Kenapa ? Karena orang pacaran itu dunianya hanya akan berkutat pada pengetahuan tentang pacarnya saja. Coba tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini ? Apa dia tahu di Palestina itu ada masalah apa ? apa dia tau kepribadian dan latar belakang capres yang terkini ? Mereka yang suka pacaran pasti gak akan tahu topik beginian. Kalau begitu, merekalah orang yang kuper karena yang mereka tahu hanya hobi sang pacar, warna favoritnya, makanan kesukaannya, dan lain-lain.
Sebagai seorang muslim dan muslimah, kita sebagai generasi penerus yang menginginkan perubahan positif disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sebaiknya menghindari aktifitas ini. Karena pada hakikatnya, pacaran adalah panah racun iblis yang menginginkan kehancuran bagi kita. Tidak serta merta Allah swt. melarang semua umat-Nya berpacaran. Meskipun tidak dijelaskan secara gamblang, namun banyak sekali dalil yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pelarangan aktifitas pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA.

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32)
Banyak sekali dari para aktivis pacaran ini yang mengaku pacaran secara islami, alasannya katanya tidak pegangan tangan, tidak pelukan, tidak berduaan, dan lain-lain. Padahal hanya sekedar bertemu pandang saja itu pun sudah zina. Itulah mengapa islam menganjurkan umatnya untuk menundukkan sebagian pandangannya jika sedang bicara dengan lawan jenis. Karena hanya dengan pandangan saja sudah terjadi zina. Lebih parahnya lagi hal itu tidak menutup kemungkinan akan membangkitkan syahwat seseorang sehingga menimbulkan fikiran yang bukan-bukan.
Allah swt. tidak melarang kita untuk memiliki rasa suka terhadap seseorang, namun alangkah baiknya jika kita bisa mengendalikan perasaan itu seraya mendekatkan diri pada Allah swt. satu-satunya yang menganugerahkan cinta yang seutuhnya.
Sesungguhnya jomblo itu lebih baik daripada pacaran. Memang, jomblo belum tentu taat. Tapi pacaran sudah jelas maksiat. Jadi, yang mengaku umat islam tapi masih pacaran atau mengaku pacaran dengan cara syar’i, sekarang saatnya untuk bilang, Loe Gue End !

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Jadi sebenarnya yang tidak boleh dalam Islam itu Aktifitas pacarannya atau status berpacaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. intinya, segala hal yang maksiat itu jelas dilarang. Pacaran, apa belum jelas maksiat ?

      Hapus

Next Prev
▲Top▲