Suatu
aktifitas yang lumrah di masyarakat, dijalankan dengan taat, padahal
jelas-jelas maksiat, yaitulah pacaran. Masyarakat kini menganggap pacaran
adalah hal yang wajar bagi seseorang, bahkan hukumnya fardu ‘ain bagi laki-laki
dan perempuan dari remaja sampai dewasa. Padahal aktifitas ini justru akan
mengakibatkan degradasi moral dalam masyarakat yang sebenarnya menginginkan
ketenangan, keamanan, dan kenyamanan dalam lingkungannya. Namun karena
aktifitas ini sudah membudaya, maka terlihatlah hasilnya sekarang. Banyak
diantara para remaja ataupun dewasa yang sudah tidak ada lagi batasan antara
laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya.
Pacaran adalah
aktivitas yang dilakukan berdua dengan sang kekasih sebelum menikah. Aktivitas
atau kegiatan ini bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa nonton bareng, makan
bakso berdua, jalan berdua, dan lain macamnya. Alasan seseorang berpacaran pun
beragam. Ada yang takut dibilang kuper, ada yang minder dengan temannya yang
mempunyai pacar, ada yang takut dibilang nggak laku, supaya semangat belajar,
dan berbagai macam alasan lainnya yang diajukan sebagai pembenaran.
Ironisnya, sebagian orang tua
bahkan senang melihat anaknya pacaran daripada menyegerakan menikah tanpa
hingar bingar kemewahan. Katanya, nikah muda takut kecolongan. Padahal niat
anaknya untuk menjaga kehormatan. Katanya, pacaran bisa nambah semangat
belajar. Katanya, bangga anaknya diperebutkan lelaki, merasa “laku”, emangnya
barang dagangan ? Dan masih banyak katanya-katanya yang lain yang dianggap
lumrah padahal justru menjatuhkan.
Pertanyaannya sekarang, apa
manfaatnya pacaran ?
Kalau takut dibilang kuper, apa dengan
pacaran bisa tambah gaul ? Tidak, justru makin tertinggal
Kalau takut dibilang gak laku, masa mau
sih disamain dengan barang dagangan ?
Kalau
hanya karena penasaran, ingin tau rasanya, apa berani nanggung resiko
kedepannya ?
Sebenarnya,
kalau hanya takut dibilang kuper karna gak mau pacaran, maka mereka para aktivis
pacaran itulah yang kuper. Kenapa ? Karena orang
pacaran itu dunianya hanya akan berkutat pada pengetahuan tentang pacarnya saja.
Coba tanya apa dia tahu perkembangan teknologi terkini ? Apa dia tahu di Palestina
itu ada masalah apa ? apa dia tau kepribadian dan latar belakang capres yang
terkini ? Mereka yang suka pacaran pasti gak akan tahu topik beginian. Kalau
begitu, merekalah orang yang kuper karena yang mereka tahu hanya hobi
sang pacar, warna favoritnya, makanan kesukaannya, dan lain-lain.
Sebagai
seorang muslim dan muslimah, kita sebagai generasi penerus yang menginginkan
perubahan positif disertai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, sebaiknya
menghindari aktifitas ini. Karena pada hakikatnya, pacaran adalah panah racun
iblis yang menginginkan kehancuran bagi kita. Tidak serta merta Allah swt.
melarang semua umat-Nya berpacaran. Meskipun tidak dijelaskan secara gamblang,
namun banyak sekali dalil yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pelarangan
aktifitas pacaran tersebut. Telah sama-sama kita ketahui bahwa Islam adalah
agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI
ZINA.
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32)
Banyak
sekali dari para aktivis pacaran ini yang mengaku pacaran secara islami,
alasannya katanya tidak pegangan tangan, tidak pelukan, tidak berduaan, dan
lain-lain. Padahal hanya sekedar bertemu pandang saja itu pun sudah zina.
Itulah mengapa islam menganjurkan umatnya untuk menundukkan sebagian
pandangannya jika sedang bicara dengan lawan jenis. Karena hanya dengan
pandangan saja sudah terjadi zina. Lebih parahnya lagi hal itu tidak menutup
kemungkinan akan membangkitkan syahwat seseorang sehingga menimbulkan fikiran
yang bukan-bukan.
Allah
swt. tidak melarang kita untuk memiliki rasa suka terhadap seseorang, namun
alangkah baiknya jika kita bisa mengendalikan perasaan itu seraya mendekatkan
diri pada Allah swt. satu-satunya yang menganugerahkan cinta yang seutuhnya.
Sesungguhnya
jomblo itu lebih baik daripada pacaran. Memang, jomblo belum tentu taat. Tapi
pacaran sudah jelas maksiat. Jadi, yang mengaku umat islam tapi masih pacaran
atau mengaku pacaran dengan cara syar’i, sekarang saatnya untuk bilang, Loe Gue
End !